Wednesday, May 1, 2019

Dakwah Bersemi Di Eks Lokalisasi



DAKWAH BERSEMI DI EKS LOKALISASI

DAKWAH BERSEMI DI EKS LOKALISASI Sebagai Laporan Kuliah Lapangan Mata Kuliah Ilmu Dakwah

Oleh : Muhammad Asiroji Alamul Huda (B91218118)

Kata Surabaya sering diartikan secara filosofis sebagai lambang perjuangan antara darat dan air. Selain itu, dari kata Surabaya juga muncul mitos pertempuran antara ikan sura / suro (ikan hiu) dan baya / boyo (buaya), yang menimbulkan dugaan bahwa terbentuknya nama "Surabaya" muncul setelah terjadinya pertempuran tersebut.
Kota Surabaya  adalah ibu kota Provinsi Jawa Timur, Indonesia, sekaligus kota metropolitan terbesar di provinsi tersebut. Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Kota ini terletak 796 km sebelah timur Jakarta, atau 415 km sebelah barat laut Denpasar, Bali. Surabaya terletak di pantai utara Pulau Jawa bagian timur dan berhadapan dengan Selat Madura serta Laut Jawa.
Surabaya memiliki luas sekitar 350,54 km² dengan penduduknya berjumlah 2.917.688 jiwa (2018). Daerah metropolitan Surabaya yaitu Gerbangkertosusila yang berpenduduk sekitar 10 juta jiwa, adalah kawasan metropolitan terbesar kedua di Indonesia setelah Jabodetabek. Surabaya dilayani oleh sebuah bandar udara, yakni Bandar Udara Internasional Juanda, serta dua pelabuhan, yakni Pelabuhan Tanjung Perak dan Pelabuhan Ujung.
Surabaya terkenal dengan sebutan Kota Pahlawan karena sejarahnya yang sangat diperhitungkan dalam perjuangan Arek-Arek Suroboyo (Pemuda-pemuda Surabaya) dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia dari serangan penjajah. Surabaya juga sempat menjadi kota terbesar di Hindia Belanda dan menjadi pusat niaga di Nusantara yang sejajar dengan Hong Kong dan Shanghai pada masanya.
Selain dengan sebutan Kota Pahlawan kota Surabaya juga memiliki beragam destinasi wisata yang menarik. Kebanyakan destinasi wisata di kota ini erat kaitannya dengan sejarah penyebaran agama Islam di tanah Jawa, serta perjuangan nasional Indonesia. Contoh destinasi wisata yag ada di Surabaya yakni:
A.    Alam
1.     Ekowisata Mangrove Wonorejo
2.     Pantai Kenjeran

B.    Sejarah
1.     Gedung Balai Kota Surabaya
2.     Gedung Internatio
3.     Gedung De Javasche Bank
4.     Pabrik Sirup Telasih
5.     Jembatan Merah
6.     Kawasan Kota Tua Surabaya
7.     Monumen Bambu Runcing
8.     Monumen Jalesveva Jayamahe
9.     Monumen Jenderal Soedirman
10.  Monumen Kapal Selam
11.  Monumen Mayangkara
12.  Museum Kedokteran
13.  Museum Loka Jala Crana
14.  Museum Nahdlatul 'Ulama
15.  Museum Negeri Mpu Tantular
16.  Museum W. R. Soepratman
17.  Tugu Pahlawan
C.    Religi
1.     Gereja Perawan Maria Tak Berdosa Surabaya
2.     Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria
3.     Kelenteng Hong Tiek Hian
4.     Kelenteng Boen Bio
5.     Kelenteng Sanggar Agung
6.     Makam Sunan Ampel
7.     Masjid Cheng Ho Surabaya
8.     Masjid Nasional Al Akbar
9.     Pura Jagad Karana
D.    Wisata keluarga
1.     Ciputra Waterpark
2.     Jalan Tunjungan
3.     Kebun Bibit Surabaya
4.     Kebun Binatang Surabaya
5.     Pasar Buah Peneleh
6.     Pasar Bunga Bratang
7.     Pasar Bunga Kayoon
8.     Patung Buddha Empat Wajah, di Sukolilo
9.     Patung Joko Dolog
10.  Rumah Batik
11.  Taman Bungkul
12.  Taman Harmoni
13.  Taman Remaja Surabaya
E.     Wisata Rohani
1.     Gang Dolly.
Nah kali ini kita akan membahas salah satu wisata yang ada di Kota Surabaya yang kabarnya telah resmi oleh pemerintah, apalagi kalau bukan eks lokalisasi atau lebih tepatnya gang dolly.
Dolly atau Gang Dolly adalah nama sebuah kawasan lokalisasi pelacuran yang terletak di daerah Jarak, Pasar Kembang, Kota Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Di kawasan lokalisasi ini, wanita penghibur "dipajang" di dalam ruangan berdinding kaca mirip etalase. Konon lokalisasi ini adalah yang terbesar di Asia Tenggara lebih besar dari Patpong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura. Bahkan pernah terjadi kontroversi untuk memasukkan Gang Dolly sebagai salah satu daerah tujuan wisata Surabaya bagi wisatawan mancanegara. Yang akan kita bahas dalam postingan kali ini adalah Sejarah dan Asal Usul Gang Dolly dimana tentu saja banyak pertanyaan akan asal gang dolly tesebut.
Dolly memang berada di tempat strategis di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Surabaya, Jawa Timur. Kabarnya kawasan Dolly ini menjadi kawasan lokalisasi prostitusi yang terbesar se-Asia Tenggara dibandingkan Phat Pong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura. Selain itu keberadaan Dolly sendiri bahkan dinilai lebih terkenal dibandingkan Kota Surabaya.
Namun mungkin ada secuil pertanyaan yang menggelitik benak kita. Bila Dolly memang merupakan sebuah lokalisasi prostitusi terbesar di Asia Tenggara, lantas siapakah pendiri atau penggagas bisnis haram ini untuk pertama kalinya? Memang sampai saat ini tidak ada yang tahu persis bagaimana asal usul kawasan prostitusi gang Dolly dapat berdiri untuk pertama kalinya. Namun memang ditilik dari sejumlah literatur, nama Dolly sendiri memang sudah sangat terkenal dan sudah ada sejak abad ke 19 pada masa kolonial Belanda.

Dolly Van de Mart
Banyak beragam kisah terkait awal berdirinya Dolly, salah satunya menyebutkan bahwa Dolly adalah merupakan nama dari salah seorang perintis berdirinya usaha prostitusi tersebut di Surabaya. Dolly Van de Mart seorang perempuan keturunan Belanda yang membuka sebuah wisma berisikan para perempuan cantik yang utamanya digunakan untuk melayani tentara Belanda ketika itu. Karena pelayanan yang sangat memuaskan yang diberikan oleh para perempuan cantik tersebut, maka para tentara Belanda itupun akhirnya tertarik untuk kembali datang berkunjung. Tidak hanya itu saja, namun terdapat juga sejumlah masyarakat pribumi yang juga penasaran untuk singgah sampai akhirnya rumah bordil itupun ramai.

Advenso Dollyres Chavit
Selain kisah Dolly Van de Mart, ada lagi kisah Dolly lainnya. Dolly adalah nama panggilan. Nama lengkapnya Advenso Dollyres Chavit. Chavit adalah nama ayahnya, seorang Filipina. Ibunya bernama Herliah, orang Jawa.Dalam kisah yang satu ini menyebutkan bahwa pada awalnya Dolly hanyalah sebuah kawasan pemakaman Cina yang kemudian dibongkar untuk dijadikan hunian. Lalu pada sekitar tahun 1967-an ada seorang mantan pelacur berdarah Jawa-Philipina yang bernama Dolly Khavit atau yang lebih dikenal dengan tante Dolly yang pindah ke daerah tersebut. Lantas tante Dolly untuk pertama kalinya mendirikan rumah bordilnya.
Dolly mengenang kehidupan keluarganya yang cukup relejius. Orangtua mendidiknya untuk sering ke geraja. Pokoknya harus selalu ingat Tuhan.  Namun entah kenapa perangai Dolly di luaran menjadi sungguh berbeda. Dolly yang tomboi cenderung memberontak.
Umur 16 tahun Dolly mulai merokok. Waktu itu (rokok) yang terkenal Escort, Commodore atau Kansas, Perempuan merokok bukanlah hal umum pada masa itu.
Menjelang umur 20, Dolly menikah dengan Soukup alias Yakup, seorang kelasi Belanda. Dari pernikahan itu lahirlah anak lelaki. Tetapi belum lagi sang anak masuk ke umur lima tahun, Yakup sang suami meninggal dunia. Dolly yang cantik pun mulai menghadapi krisis keuangan. Mana sang anak kerap merengek meminta ini-itu. Semisal es krim, yang pada masa itu termasuk jajanan mahal. Untuk membesarkan sang anak serta mencukupi kebutuhan sehari-hari Dolly butuh biaya. Maka babak baru dalam kehidupannya pun bergulir. Mungkin terdengar klise. Tetapi ia mengaku terpaksa saat memutuskan untuk melangkah ke dunia prostitusi pada awal tahun 1950-an.

Kecantikan Dolly dan kefasihannya berbahasa Belanda membuat banyak laki-laki mencarinya. Dolly dengan mudah menjadi idola. Khususnya bagi para eksptariat yang baru turun dari kapal. "Aku ini cantik. Tubuhku tinggi-ramping. Banyak lelaki tergila-gila," jelas Dolly.
Dolly biasa meladeni lelaki di Hotel Simpang atau LMS. Dolly mengaku tidak pernah meminta bayaran uang kepada lelaki yang mengencaninya. "Aku ini pelacur kelas atas. Aku enggak pernah mau dibayar," jelasnya. Kompensasinya adalah: ia hanya mau menerima berbagai barang mahal. Dalam istilah Dolly, "Aku cuma menerima 'kado'."
Banyak lelaki ingin menikahi Dolly. Tetapi permintaan itu ditampiknya. Dolly memilih menjadi single parent. Alasannya simpel. Ia tak ingin satu-satunya anak lelaki yang ia miliki menerima perlakukan kasar dari ayah tiri.
Awal 1960-an Dolly hijrah ke Kembang Kuning. Inilah komplek pelacuran di Surabaya. Ia kemudian diasuh oleh Tante Beng. Nama terakhir adalah nama mucikari sohor pada masa itu. Sekitar delapan tahun ia menjadi anak kesayangan Tante Beng. Pada masa-masa itu ia mulai mengumpulkan aset.
Pelajaran ngegermo, menurut Dolly juga ia dapatkan dari sang mucikari.
Sekitar tahun 1969 Dolly memutuskan pindah ke kawasan Kupang Gunung. Di sanalah ia membangun rumah, di bekas lahan kuburan cina. Dolly mulai mengusahakan "wisma" – istilah lain untuk rumah bordil. Dari satu wisma, berkembang hingga empat. Ada Istana Remaja, Mamamia, Nirmala, lalu Wisma Tentrem.
Usaha rumah bordilnya ini lantas membuat orang penasaran untuk singgah sehingga akhirnya Dollypun menjadi populer. Konon sejak saat itulah bisnis prostitusi inipun mulai menjalar, banyak kemudian puluhan wisma yang kurang lebih melakukan bisnis yang sama bermunculan. Selain memiliki lokasi yang strategis, cara para PSK menjajakan diri dengan berada di akuarium memang menjadi magnet yang besar bagi para lelaki hidung belang.
Siapa bilang, upaya Pemkot Surabaya menutup lokalisasi Dolly tahun 2014 silam tuntas. Buktinya, bisnis esek-esek di sana, masih ada meski praktiknya terselubung. Fakta itu terungkap setelah Polrestabes Surabaya membongkar bisnis prostitusi seks terselubung itu, Minggu (21/1/2018) dini hari. Dua mucikari dan tiga PSK (pekerja seks komersial) diamankan. Fakta ini menegaskan, bahwa Dolly masih 'hidup'. Prostitusi terselubung di eks lokalisasi dolly itu, dibongkar oleh Unit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) Satreskrim Polrestabes Surabaya. Dipimpin Kanit PPA AKP Ruth Yeni, tim ini menggerebek bekas wisma disana. Yaitu Wisma New Borneo Karaoke. Mereka mengepung wisma itu sekitar pukul 00.10 Wib. Mereka langsung masuk ke tiga kamar yang diinformasikan menjadi tempat para PSK melayani para pria hidung belang.
Informasi itu ternyata benar. Tim PPA menangkap basah 3 PSK dalam 3 kamar berbeda sedang asyik melayani tamunya. 3 PSK dan 3 pria penikmat jasa lendir ini pun diamankan. Tidak hanya itu, dua pria yang menjadi mucikari para PSK itu, akhirnya turut diringkus. Kedua mucikari itu bernama Basuki (30) dan Tasipin (29). Keduanya merupakan warga asal Tuban. Mereka pun digelandang ke Mapolrestabes Surabaya untuk diperiksa.
Dibongkarnya bisnis esek-esek oleh Unit PPA ini pun diapresiasi oleh Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Rudi Setiawan. Menurutnya, ungkap itu merupakan hasil dari upaya Polrestabes Surabaya memantau eks lokalisasi dolly selama ini. Dan ungkap tersebut merupakan upaya Polrestabes Surabaya untuk membuat eks lokalisasi Dolly, agar benar-benar bersih dari maksiat.
"Siapapun yang mencoba menumbuhkan kembali masa kelam (bisnis prostitusi) itu, akan kami sikat," tegas Kombes Pol Rudi Setiawan, kemarin. Alumnus AKPOL (Akademi Kepolisian) tahun 1993 itu juga memastikan, pihaknya akan bekerja sama dengan Pemkot, ulama, tokoh masyarakat serta pihak-pihak lain untuk menjadikan eks lokalisasi dolly benar-benar bebas dari praktik maksiat.
Modus Terselubung
Sementara itu, dari hasil pemeriksaan penyidik, Kasatreskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Sudamiran mengungkapkan jika praktik yang dilakukan dua mucikari itu sudah berjalan sekitar 2 tahun. Dalam bisnisnya, kedua mucikari mencari sasaran pelanggan dengan cara melambaikan tangan. Untuk mengelabuhi polisi, mereka (para mucikari dan PSKK) tidak menempati wisma yang digunakan untuk melayani tamu. "Jadi, para mucikari dan PSK ini berada di gang sebelah eks Dolly. Setelah dapat pelanggan, mereka baru menjemput PSK dan mengantarkan pelanggan ke wisma itu," beber AKBP Sudamiran. Khusus untuk kasus ini, lanjut AKBP Sudamiran, mucikari memasang harga antara 200 hingga 300 ribu sekali kencan. Tarif itu akan dipotong biaya 40 ribu untuk sewa kamar wisma dan 120 ribu untuk PSK. Sedangkan sisanya, akan diambil oleh mucikari. Dalam sehari, 2 mucikari itu bisa mendapat pelanggan antara 3 hingga 6 orang.
Perlu diingat bahwa eksistensi pelacuran terbangun karena logika bisnis, yaitu adanya supply and demand, di mana para pelacur membutuhkan uang dan pelanggannya membutuhkan kepuasan seksual.Para PSK eks-Dolly tetap dapat bekerja atau beroperasi selama masih ada pelanggan yang menginginkan meskipun harus bekerja di luar wilayah Dolly.
Salah satu jalan lain yang digunakan untuk mengentas dan menyudahi PSK maupun mucikari adalah dengan memberikan mereka dakwah islam. Seperti dakwah yang dilakukan di lokalisasi saat ini, banyak cara dan metode yang dapat digunakan pada saat berdakwah di tempat sarang maksiat seperti itu.


Berbicara mengenai dakwah di eks lokalisasi, saya sebagai salah satu mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah & Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya telah mengikuti kuliah lapangan yang berlokasi tepat di wilayah eks-lokalisasi sebagai bagian dari tugas Mata Kuliah Ilmu Dakwah. Kuliah lapangan ini bertempat di sebuah masjid yang menjadi saksi bisu perjuangan para mubaligh yang ikhlas berdakwah demi menghentikan sarang maksiat yang besar itu.Masjid yang berlokasi di sebuah Gang yang masuk dalam wilayah yang dulu disebut sebagai Dolly.
Kuliah lapangan yang mengambil tema “DAKWAH KONTEMPORER DAN ENTREPRENEURSHIP” ini menghadirkan empat narasumber yang sangat hebat.yaitu yang pertama ada Dr. H.A. Sunarto AS, MEI dengan julukan Doktor Prostitusi, anggota IDEAL (Ikatan Da’i Area Lokalisasi)-MUI Jatim, kemudian selanjutnya yaitu KH. Drs. Khoiron Syuaib yang berjuluk Kyai Prostitusi yang namanya sering tertulis di media berita online sehubungan dengan penutupan lokalisasi, yang ketiga ada H. Sunarto Sholahudin, seorang pengusaha sukses, owner PT . Berkah Aneka Laut, dan yang terakhir yaitu H. Gatot Subiantoro, seorang mantan preman dan juga anggota IDEAL-MUI Jatim.
Selain ke-empat narasumber dalam kuliah lapangan tersebut, ada lagi 1 orang yang juga cukup berpengaruh dan disegani oleh warga sekitar, yaitu seorang bapak berdarah campuran Yaman-Jawa bernama Ngadimin Wahab atau nama akrab dan sapaannya yaitu Abah Petruk. Beliau ini adalah seorang pengurus masjid At-Taubah sekaligus mubaligh awal yang memutuskan untuk terjun demi membenahi umat. Beliau juga yang ikut menjadi saksi bagaimana proses dakwah berjalan di area yang sangat sulit tersebut, ikut bersama menemani Mushalla Al-Huda hingga berubah menjadi Masjid At-Taubah.
Abah Petruk ini dalam proses dakwahnya menggunakan metode penyembuhan. Penyembuhan yang dimaksud adalah penyembuhan dari hal-hal ghaib. Seperti ketika ada PSK yang terkena penyakit ghaib (gua-guna, santet, kerasukan jin, dsb) maka Abah Petruk akan turun tangan.Di sela-sela penyembuhan ini lah, dengan perlahan Abah Petruk juga menyematkan sedikit demi sedikit segala hal yang menyangkut keimanan.Tetunya, ini juga bukan lah sesuatu yang mudah dan tanpa resiko.“Saya pernah dilempari batu ketika sedang mengimami shalat.Beruntungnya tidak sampai mengenai jamaah, hanya luka kecil. Ya wajarlah namanya juga masih tahap mbabat alas.” Ujar beliau dengan penuh kesabaran.Dan kesabaran, ketelatenan, serta kekonsistenan itu hari ini telah membuahkan hasilnya.Do’a-do’a beliau yang selama ini sudah dipanjatkan pun telah terkabulkan.
Dari Abah Petruk, beralih ke Narasumber Pertama, yaitu H. Sunarto Sholahudin. Seperti yang sudah saya katakan diatas, beliau adalah seorang pengusaha sukses. Beliau membagikan pengalaman mengenai perjalanan hidup di mulai dari masa kecilnya yang susah secara ekonomi. Ayahnya seorang penjual es dan ibunya penjual roti.Sedang beliau sendiri sudah terbiasa menjajakan jajanan sembari bersekolah.Hingga kemudian merantau ke Surabaya untuk mengadu nasib.
Setelah melewati berbagai lika-liku kehidupan dan tantangan-tantangan yang amat sulit di Surabaya, beliau memulai berusaha dalam bidang olahan sari laut hingga sampai sukses seperti saat ini. Namun, kesuksesan itu tidak membuat beliau lupa akan kewajibannya kepada Allah SWT. Selain menuaikan ibadah syariah rutin, beliau juga ikut andil dalam proses dakwah di eks lokalisasi saat itu. Cara yang digunakannya pun cukup unik, karena beliau adalah orang yang mampu dalam hal materi, beliau menggunakan materinya untuk membeli wisma-wisma yang dijual. “Di beli satu per satu, lama kelamaan jumlah wisma tersebut akan habis. Dengan begitu tidak ada lagi tempat untuk melakukan maksiat lagi di sini.”Katanya dengan mantap.Untuk itulah, dalam dakwah lokalisasi H. Sunarto berperan dalam hal logistic.Seperti untuk keperluan Masjid-Masjid disekitar Lokalisasi dan menyantuni anak-anak yatim serta janda-janda miskin disekitar lokalisasi.
Setelah H. Sunarto Sholahudin, narasumeber ke dua adalah Dr. H. Sunarto AS, MEI yang juga merupakan dosen Fakultas Dakwah & Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Seperti yang sudah saya katakan di atas, beliau memunyai julukan sebagai “Doktor Prostitusi” karena rumah beliau dekat dengan area lokalisasi dan beliau mendedikasikan diri untuk ikut terjun berdakwah di dunia kemaksiatan tersebut.
Menurut beliau, dakwah itu merubah dan merombak kemungkaran.Apa yang harus dirubah? Banyak. Salah satunya merubah mainseat pelacur dan mucikari yang mengatakan “Tidak melacur, tidak makan.”.bagaimana cara yang tepat agar mainseat yang sudah tertanam di alam bawah sadar mereka sejak lama dapat dirubah melalui dakwah. Dalam hal ini, beliau juga mengatakan bahwa berdakwah dilakukan dengan cara kelembagaan. Beliau juga berdakwah melalui lembaga yang bernama FORKEMAS (Forum Komunikasi Elemen Masyarakat Surabaya).
Kemudian narasumber ketiga yaitu KH. Drs. Khoiron Syuaib dengan julukannya “kyai prostitusi”. Beliau mengklasifikasi mitra dakwah menjadi empat macam, yaitu PSK, mucikari, tokoh-tokoh berpengaruh seperti RW, dan masyarakat yang merasa diuntungkan dengan adanya lokalisasi.Metode beliau dalam berdakwah adalah mendekati masing-masing mitra dakwah dengan dakwah santai dan tidak langsung menyalah-nyalahkan perbuatan mereka serta menghindari dakwah yang terkesan membosankan.
Salah satu contoh ketika berdakwah pada PSK beliau mengatakan proses dakwah sampai dilakukan di tretes untuk memberikan pesan keisaman agar menyentuh hati dan terbukti setelah dari sana, mereka semua menjadi insyaf dan berhenti dari pekerjaan maksiat tersebut. Satu statement beliau adalah “Prostitusi selama setan masih hidup maka akan terus ada sampai kiamat”.Oleh karena itu, dakwah juga terus dilakukan untuk mengimbanginya.
Narasumber yang terakhir yaitu H. Gatot Subiantoro, seorang mantan preman yang termasuk dalam salah satu preman berpengaruh di area lokalisasi.Mengenai pengalaman dalam hal dunia kemaksiatan tersebut beliau sudah khatam.Beliau berbagi cerita bagaimana seorang Gatot yang setiap harinya bergelimang uang hasil upeti dari para PSK dan lelaki hidung belang yang menyewa jasa mereka. Setiap harinya yang selalu ditemani oleh minuman keras dan  dikelilingi wanita-wanita cantik dan berkelahi dengan preman-preman lain.
Tetapi itu semua sudah menjadi cerita masa lalu bagi beliau. Alhamdulillah Allah SWT masih menyayangi beliau dan memberikan hidayahnya pada beliau sehingga di usia yang sudah tidak lagi muda beliau masih bisa merasakan manisnya iman islam melalui para mubaligh-mubaligh yang sudah saya sebut di atas. Beliau bercerita, bahwa metode dakwah para mubaligh di atas berbeda dengan metode da’i yang lain. Ketika mereka datang, mereka tidak langsung mengatakan hal ini dosa, hal itu dilarang, kamu harus taubat, kamu harus sholat, dan sebagainya. Tetapi mereka merangkul beliau terlebih dahulu dengan dilibatkan pada acara-acara hari besar islam seperti menjadi panitia kurban pada saat Idul Adha.
Dari perlakuan yang seperti inilah, yang membuat beliau tersentuh dan dapat menangkap sinar hidayah Allah SWT. Dakwah yang tulus, ikhlas, sabar, telaten, dan halus inilah yang mampu mengubah seorang Gatot Subiantoro menjadi sosok Umar Bin Khattab ketika di zaman Rasulullah SAW. Sesorang yang awalnya antipasti dan menentang dakwah, kini menjadi pembela dakwah islam paling depan dan kemudian ikut serta dalam aksi dakwah.
Kata-kata pesan beliau yang paling berkesan bagi saya adalah “Kekayaan nggak ada habisnya, kemiskinan nggak ada habisnya, akan tetapi usia ada habisnya.” dan “Dakwah jangan hanya di Masjid saja, tetapi harus kemana-kemana. Tetangga masih membutuhkan perhatian kita”. Semoga beliau-beliau yang saya ceritakan di atas, tetap diberi kesehatan dan usia yang panjang agar bisa terus memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat dimanapun berada.
Berikut ini 4 kesan saya selama mengikuti kegiatan kuliah lapangan di eks-lokalisasi :
1.     Saya dapat mengerti betapa pentingnya peran ulama dalam menutup tempt prostitusi.
2.  Belajar akan jiwa pantang menyerah dan tetap semangat serta membentuk jiwa enterpreneurship.
3.    Menyadarkan saya seberapa hina kita dihadapan tuhan jika kita mau bertobat dengan sungguh pasti ada jalan.
4.     Mengajarkan saya untuk lebih menghargai seorang wanita.
5.     Merasakan betapa kelam nya dolly pada zaman dulu.