DAKWAH
BERSEMI DI EKS LOKALISASI
DAKWAH BERSEMI DI EKS LOKALISASI Sebagai Laporan Kuliah Lapangan Mata Kuliah Ilmu Dakwah
Oleh : Muhammad Asiroji Alamul Huda (B91218118)
Kata Surabaya
sering diartikan secara filosofis sebagai lambang perjuangan antara darat dan
air. Selain itu, dari kata Surabaya juga muncul mitos pertempuran antara ikan
sura / suro (ikan hiu) dan baya / boyo (buaya), yang menimbulkan dugaan bahwa
terbentuknya nama "Surabaya" muncul setelah terjadinya pertempuran
tersebut.
Kota
Surabaya adalah ibu kota Provinsi Jawa
Timur, Indonesia, sekaligus kota metropolitan terbesar di provinsi tersebut.
Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Kota ini
terletak 796 km sebelah timur Jakarta, atau 415 km sebelah barat laut Denpasar,
Bali. Surabaya terletak di pantai utara Pulau Jawa bagian timur dan berhadapan
dengan Selat Madura serta Laut Jawa.
Surabaya
memiliki luas sekitar 350,54 km² dengan penduduknya berjumlah 2.917.688 jiwa
(2018). Daerah metropolitan Surabaya yaitu Gerbangkertosusila yang berpenduduk
sekitar 10 juta jiwa, adalah kawasan metropolitan terbesar kedua di Indonesia
setelah Jabodetabek. Surabaya dilayani oleh sebuah bandar udara, yakni Bandar
Udara Internasional Juanda, serta dua pelabuhan, yakni Pelabuhan Tanjung Perak
dan Pelabuhan Ujung.
Surabaya terkenal dengan sebutan Kota Pahlawan karena sejarahnya yang
sangat diperhitungkan dalam perjuangan Arek-Arek Suroboyo (Pemuda-pemuda
Surabaya) dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia dari serangan
penjajah. Surabaya
juga sempat menjadi kota terbesar di Hindia Belanda dan menjadi pusat niaga di
Nusantara yang sejajar dengan Hong Kong dan Shanghai pada masanya.
Selain dengan
sebutan Kota Pahlawan kota Surabaya juga memiliki beragam destinasi wisata yang
menarik. Kebanyakan destinasi wisata di kota ini erat kaitannya dengan sejarah
penyebaran agama Islam di tanah Jawa, serta perjuangan nasional Indonesia.
Contoh destinasi wisata yag ada di Surabaya yakni:
A.
Alam
1.
Ekowisata Mangrove Wonorejo
2.
Pantai Kenjeran
B.
Sejarah
1.
Gedung Balai Kota Surabaya
2.
Gedung Internatio
3.
Gedung De Javasche Bank
4.
Pabrik Sirup Telasih
5.
Jembatan Merah
6.
Kawasan Kota Tua Surabaya
7.
Monumen Bambu Runcing
8.
Monumen Jalesveva Jayamahe
9.
Monumen Jenderal Soedirman
10. Monumen
Kapal Selam
11. Monumen
Mayangkara
12. Museum
Kedokteran
13. Museum
Loka Jala Crana
14. Museum
Nahdlatul 'Ulama
15. Museum
Negeri Mpu Tantular
16. Museum
W. R. Soepratman
17. Tugu
Pahlawan
C.
Religi
1.
Gereja Perawan Maria Tak Berdosa
Surabaya
2.
Gereja Katolik Kelahiran Santa
Perawan Maria
3.
Kelenteng Hong Tiek Hian
4.
Kelenteng Boen Bio
5.
Kelenteng Sanggar Agung
6.
Makam Sunan Ampel
7.
Masjid Cheng Ho Surabaya
8.
Masjid Nasional Al Akbar
9.
Pura Jagad Karana
D.
Wisata keluarga
1.
Ciputra Waterpark
2.
Jalan Tunjungan
3.
Kebun Bibit Surabaya
4.
Kebun Binatang Surabaya
5.
Pasar Buah Peneleh
6.
Pasar Bunga Bratang
7.
Pasar Bunga Kayoon
8.
Patung Buddha Empat Wajah, di
Sukolilo
9.
Patung Joko Dolog
10. Rumah
Batik
11. Taman
Bungkul
12. Taman
Harmoni
13. Taman
Remaja Surabaya
E.
Wisata Rohani
1.
Gang Dolly.
Nah kali ini kita akan membahas salah satu wisata yang ada di Kota Surabaya
yang kabarnya telah resmi oleh pemerintah, apalagi kalau bukan eks lokalisasi
atau lebih tepatnya gang dolly.
Dolly atau Gang
Dolly adalah nama sebuah kawasan lokalisasi pelacuran yang terletak di daerah
Jarak, Pasar Kembang, Kota Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Di kawasan
lokalisasi ini, wanita penghibur "dipajang" di dalam ruangan
berdinding kaca mirip etalase. Konon lokalisasi ini adalah yang terbesar di
Asia Tenggara lebih besar dari Patpong di Bangkok, Thailand dan Geylang di
Singapura. Bahkan pernah terjadi kontroversi untuk memasukkan Gang Dolly
sebagai salah satu daerah tujuan wisata Surabaya bagi wisatawan mancanegara.
Yang akan kita bahas dalam postingan kali ini adalah Sejarah dan Asal Usul Gang
Dolly dimana tentu saja banyak pertanyaan akan asal gang dolly tesebut.
Dolly memang
berada di tempat strategis di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan,
Surabaya, Jawa Timur. Kabarnya kawasan Dolly ini menjadi kawasan lokalisasi
prostitusi yang terbesar se-Asia Tenggara dibandingkan Phat Pong di Bangkok,
Thailand dan Geylang di Singapura. Selain itu keberadaan Dolly sendiri bahkan
dinilai lebih terkenal dibandingkan Kota Surabaya.
Namun mungkin ada
secuil pertanyaan yang menggelitik benak kita. Bila Dolly memang merupakan
sebuah lokalisasi prostitusi terbesar di Asia Tenggara, lantas siapakah pendiri
atau penggagas bisnis haram ini untuk pertama kalinya? Memang sampai saat ini
tidak ada yang tahu persis bagaimana asal usul kawasan prostitusi gang Dolly
dapat berdiri untuk pertama kalinya. Namun memang ditilik dari sejumlah
literatur, nama Dolly sendiri memang sudah sangat terkenal dan sudah ada sejak
abad ke 19 pada masa kolonial Belanda.
Dolly Van de Mart
Banyak beragam
kisah terkait awal berdirinya Dolly, salah satunya menyebutkan bahwa Dolly
adalah merupakan nama dari salah seorang perintis berdirinya usaha prostitusi
tersebut di Surabaya. Dolly Van de Mart seorang perempuan keturunan Belanda
yang membuka sebuah wisma berisikan para perempuan cantik yang utamanya
digunakan untuk melayani tentara Belanda ketika itu. Karena pelayanan yang
sangat memuaskan yang diberikan oleh para perempuan cantik tersebut, maka para
tentara Belanda itupun akhirnya tertarik untuk kembali datang berkunjung. Tidak
hanya itu saja, namun terdapat juga sejumlah masyarakat pribumi yang juga
penasaran untuk singgah sampai akhirnya rumah bordil itupun ramai.
Advenso Dollyres Chavit
Selain kisah
Dolly Van de Mart, ada lagi kisah Dolly lainnya. Dolly adalah nama panggilan.
Nama lengkapnya Advenso Dollyres Chavit. Chavit adalah nama ayahnya, seorang
Filipina. Ibunya bernama Herliah, orang Jawa.Dalam kisah yang satu ini
menyebutkan bahwa pada awalnya Dolly hanyalah sebuah kawasan pemakaman Cina
yang kemudian dibongkar untuk dijadikan hunian. Lalu pada sekitar tahun 1967-an
ada seorang mantan pelacur berdarah Jawa-Philipina yang bernama Dolly Khavit
atau yang lebih dikenal dengan tante Dolly yang pindah ke daerah tersebut. Lantas
tante Dolly untuk pertama kalinya mendirikan rumah bordilnya.
Dolly mengenang
kehidupan keluarganya yang cukup relejius. Orangtua mendidiknya untuk sering ke
geraja. Pokoknya harus selalu ingat Tuhan.
Namun entah kenapa perangai Dolly di luaran menjadi sungguh berbeda.
Dolly yang tomboi cenderung memberontak.
Umur 16 tahun
Dolly mulai merokok. Waktu itu (rokok) yang terkenal Escort, Commodore atau
Kansas, Perempuan merokok bukanlah hal umum pada masa itu.
Menjelang umur
20, Dolly menikah dengan Soukup alias Yakup, seorang kelasi Belanda. Dari
pernikahan itu lahirlah anak lelaki. Tetapi belum lagi sang anak masuk ke umur
lima tahun, Yakup sang suami meninggal dunia. Dolly yang cantik pun mulai
menghadapi krisis keuangan. Mana sang anak kerap merengek meminta ini-itu.
Semisal es krim, yang pada masa itu termasuk jajanan mahal. Untuk membesarkan
sang anak serta mencukupi kebutuhan sehari-hari Dolly butuh biaya. Maka babak
baru dalam kehidupannya pun bergulir. Mungkin terdengar klise. Tetapi ia
mengaku terpaksa saat memutuskan untuk melangkah ke dunia prostitusi pada awal
tahun 1950-an.
Kecantikan
Dolly dan kefasihannya berbahasa Belanda membuat banyak laki-laki mencarinya.
Dolly dengan mudah menjadi idola. Khususnya bagi para eksptariat yang baru
turun dari kapal. "Aku ini cantik. Tubuhku tinggi-ramping. Banyak lelaki
tergila-gila," jelas Dolly.
Dolly biasa
meladeni lelaki di Hotel Simpang atau LMS. Dolly mengaku tidak pernah meminta
bayaran uang kepada lelaki yang mengencaninya. "Aku ini pelacur kelas
atas. Aku enggak pernah mau dibayar," jelasnya. Kompensasinya adalah: ia
hanya mau menerima berbagai barang mahal. Dalam istilah Dolly, "Aku cuma
menerima 'kado'."
Banyak lelaki
ingin menikahi Dolly. Tetapi permintaan itu ditampiknya. Dolly memilih menjadi
single parent. Alasannya simpel. Ia tak ingin satu-satunya anak lelaki yang ia
miliki menerima perlakukan kasar dari ayah tiri.
Awal 1960-an
Dolly hijrah ke Kembang Kuning. Inilah komplek pelacuran di Surabaya. Ia
kemudian diasuh oleh Tante Beng. Nama terakhir adalah nama mucikari sohor pada
masa itu. Sekitar delapan tahun ia menjadi anak kesayangan Tante Beng. Pada
masa-masa itu ia mulai mengumpulkan aset.
Pelajaran
ngegermo, menurut Dolly juga ia dapatkan dari sang mucikari.
Sekitar tahun
1969 Dolly memutuskan pindah ke kawasan Kupang Gunung. Di sanalah ia membangun
rumah, di bekas lahan kuburan cina. Dolly mulai mengusahakan "wisma"
– istilah lain untuk rumah bordil. Dari satu wisma, berkembang hingga empat.
Ada Istana Remaja, Mamamia, Nirmala, lalu Wisma Tentrem.
Usaha rumah
bordilnya ini lantas membuat orang penasaran untuk singgah sehingga akhirnya
Dollypun menjadi populer. Konon sejak saat itulah bisnis prostitusi inipun
mulai menjalar, banyak kemudian puluhan wisma yang kurang lebih melakukan
bisnis yang sama bermunculan. Selain memiliki lokasi yang strategis, cara para
PSK menjajakan diri dengan berada di akuarium memang menjadi magnet yang besar
bagi para lelaki hidung belang.
Siapa bilang,
upaya Pemkot Surabaya menutup lokalisasi Dolly tahun 2014 silam tuntas.
Buktinya, bisnis esek-esek di sana, masih ada meski praktiknya terselubung.
Fakta itu terungkap setelah Polrestabes Surabaya membongkar bisnis prostitusi
seks terselubung itu, Minggu (21/1/2018) dini hari. Dua mucikari dan tiga PSK
(pekerja seks komersial) diamankan. Fakta ini menegaskan, bahwa Dolly masih
'hidup'. Prostitusi terselubung di eks lokalisasi dolly itu, dibongkar oleh
Unit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) Satreskrim Polrestabes Surabaya.
Dipimpin Kanit PPA AKP Ruth Yeni, tim ini menggerebek bekas wisma disana. Yaitu
Wisma New Borneo Karaoke. Mereka mengepung wisma itu sekitar pukul 00.10 Wib.
Mereka langsung masuk ke tiga kamar yang diinformasikan menjadi tempat para PSK
melayani para pria hidung belang.
Informasi itu
ternyata benar. Tim PPA menangkap basah 3 PSK dalam 3 kamar berbeda sedang
asyik melayani tamunya. 3 PSK dan 3 pria penikmat jasa lendir ini pun
diamankan. Tidak hanya itu, dua pria yang menjadi mucikari para PSK itu,
akhirnya turut diringkus. Kedua mucikari itu bernama Basuki (30) dan Tasipin
(29). Keduanya merupakan warga asal Tuban. Mereka pun digelandang ke
Mapolrestabes Surabaya untuk diperiksa.
Dibongkarnya
bisnis esek-esek oleh Unit PPA ini pun diapresiasi oleh Kapolrestabes Surabaya,
Kombes Pol Rudi Setiawan. Menurutnya, ungkap itu merupakan hasil dari upaya
Polrestabes Surabaya memantau eks lokalisasi dolly selama ini. Dan ungkap
tersebut merupakan upaya Polrestabes Surabaya untuk membuat eks lokalisasi
Dolly, agar benar-benar bersih dari maksiat.
"Siapapun
yang mencoba menumbuhkan kembali masa kelam (bisnis prostitusi) itu, akan kami
sikat," tegas Kombes Pol Rudi Setiawan, kemarin. Alumnus AKPOL (Akademi
Kepolisian) tahun 1993 itu juga memastikan, pihaknya akan bekerja sama dengan
Pemkot, ulama, tokoh masyarakat serta pihak-pihak lain untuk menjadikan eks
lokalisasi dolly benar-benar bebas dari praktik maksiat.
Modus Terselubung
Sementara itu, dari hasil pemeriksaan penyidik, Kasatreskrim Polrestabes
Surabaya, AKBP Sudamiran mengungkapkan jika praktik yang dilakukan dua mucikari
itu sudah berjalan sekitar 2 tahun. Dalam bisnisnya, kedua mucikari mencari sasaran pelanggan dengan
cara melambaikan tangan. Untuk mengelabuhi polisi, mereka (para mucikari dan
PSKK) tidak menempati wisma yang digunakan untuk melayani tamu. "Jadi,
para mucikari dan PSK ini berada di gang sebelah eks Dolly. Setelah dapat
pelanggan, mereka baru menjemput PSK dan mengantarkan pelanggan ke wisma
itu," beber AKBP Sudamiran. Khusus untuk kasus ini, lanjut AKBP Sudamiran,
mucikari memasang harga antara 200 hingga 300 ribu sekali kencan. Tarif itu
akan dipotong biaya 40 ribu untuk sewa kamar wisma dan 120 ribu untuk PSK.
Sedangkan sisanya, akan diambil oleh mucikari. Dalam sehari, 2 mucikari itu
bisa mendapat pelanggan antara 3 hingga 6 orang.
Perlu diingat bahwa eksistensi pelacuran terbangun karena logika bisnis,
yaitu adanya supply and demand, di mana para pelacur membutuhkan uang dan
pelanggannya membutuhkan kepuasan seksual.Para PSK eks-Dolly tetap dapat
bekerja atau beroperasi selama masih ada pelanggan yang menginginkan meskipun
harus bekerja di luar wilayah Dolly.
Salah satu
jalan lain yang digunakan untuk mengentas dan menyudahi PSK maupun mucikari
adalah dengan memberikan mereka dakwah islam. Seperti dakwah yang dilakukan di
lokalisasi saat ini, banyak cara dan metode yang dapat digunakan pada saat
berdakwah di tempat sarang maksiat seperti itu.
Berbicara mengenai dakwah di eks lokalisasi, saya sebagai salah satu
mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah &
Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya telah mengikuti kuliah
lapangan yang berlokasi tepat di wilayah eks-lokalisasi sebagai bagian dari
tugas Mata Kuliah Ilmu Dakwah. Kuliah lapangan ini bertempat di sebuah masjid yang menjadi saksi
bisu perjuangan para mubaligh yang ikhlas berdakwah demi menghentikan sarang
maksiat yang besar itu.Masjid yang berlokasi di sebuah Gang yang masuk dalam
wilayah yang dulu disebut sebagai Dolly.
Kuliah lapangan yang mengambil tema “DAKWAH KONTEMPORER DAN
ENTREPRENEURSHIP” ini menghadirkan empat narasumber yang sangat hebat.yaitu
yang pertama ada Dr. H.A. Sunarto AS, MEI dengan julukan Doktor Prostitusi,
anggota IDEAL (Ikatan Da’i Area Lokalisasi)-MUI Jatim, kemudian selanjutnya
yaitu KH. Drs.
Khoiron Syuaib yang berjuluk Kyai Prostitusi yang namanya sering tertulis di
media berita online sehubungan dengan penutupan lokalisasi, yang ketiga ada H.
Sunarto Sholahudin, seorang pengusaha sukses, owner PT . Berkah Aneka Laut, dan
yang terakhir yaitu H. Gatot Subiantoro, seorang mantan preman dan juga anggota
IDEAL-MUI Jatim.
Selain ke-empat narasumber dalam kuliah lapangan tersebut, ada lagi 1 orang
yang juga cukup berpengaruh dan disegani oleh warga sekitar, yaitu seorang
bapak berdarah campuran Yaman-Jawa bernama Ngadimin Wahab atau nama akrab dan
sapaannya yaitu Abah Petruk. Beliau ini adalah seorang pengurus masjid At-Taubah sekaligus
mubaligh awal yang memutuskan untuk terjun demi membenahi umat. Beliau juga
yang ikut menjadi saksi bagaimana proses dakwah berjalan di area yang sangat
sulit tersebut, ikut bersama menemani Mushalla Al-Huda hingga berubah menjadi
Masjid At-Taubah.
Abah Petruk ini
dalam proses dakwahnya menggunakan metode penyembuhan. Penyembuhan yang
dimaksud adalah penyembuhan dari hal-hal ghaib. Seperti ketika ada PSK yang
terkena penyakit ghaib (gua-guna, santet, kerasukan jin, dsb) maka Abah Petruk
akan turun tangan.Di sela-sela penyembuhan ini lah, dengan perlahan Abah Petruk
juga menyematkan sedikit demi sedikit segala hal yang menyangkut
keimanan.Tetunya, ini juga bukan lah sesuatu yang mudah dan tanpa resiko.“Saya
pernah dilempari batu ketika sedang mengimami shalat.Beruntungnya tidak sampai
mengenai jamaah, hanya luka kecil. Ya wajarlah namanya juga masih tahap mbabat
alas.” Ujar beliau dengan penuh kesabaran.Dan kesabaran, ketelatenan, serta
kekonsistenan itu hari ini telah membuahkan hasilnya.Do’a-do’a beliau yang
selama ini sudah dipanjatkan pun telah terkabulkan.
Dari Abah
Petruk, beralih ke Narasumber Pertama, yaitu H. Sunarto Sholahudin. Seperti
yang sudah saya katakan diatas, beliau adalah seorang pengusaha sukses. Beliau membagikan
pengalaman mengenai perjalanan hidup di mulai dari masa kecilnya yang susah
secara ekonomi. Ayahnya seorang penjual es dan ibunya penjual roti.Sedang
beliau sendiri sudah terbiasa menjajakan jajanan sembari bersekolah.Hingga
kemudian merantau ke Surabaya untuk mengadu nasib.
Setelah
melewati berbagai lika-liku kehidupan dan tantangan-tantangan yang amat sulit
di Surabaya, beliau memulai berusaha dalam bidang olahan sari laut hingga
sampai sukses seperti saat ini. Namun, kesuksesan itu tidak membuat beliau lupa
akan kewajibannya kepada Allah SWT. Selain menuaikan ibadah syariah rutin,
beliau juga ikut andil dalam proses dakwah di eks lokalisasi saat itu. Cara
yang digunakannya pun cukup unik, karena beliau adalah orang yang mampu dalam
hal materi, beliau menggunakan materinya untuk membeli wisma-wisma yang dijual.
“Di beli satu per satu, lama kelamaan jumlah wisma tersebut akan habis. Dengan
begitu tidak ada lagi tempat untuk melakukan maksiat lagi di sini.”Katanya
dengan mantap.Untuk itulah, dalam dakwah lokalisasi H. Sunarto berperan dalam
hal logistic.Seperti untuk keperluan Masjid-Masjid disekitar Lokalisasi dan
menyantuni anak-anak yatim serta janda-janda miskin disekitar lokalisasi.
Setelah H.
Sunarto Sholahudin, narasumeber ke dua adalah Dr. H. Sunarto AS, MEI yang juga
merupakan dosen Fakultas Dakwah & Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan
Ampel Surabaya. Seperti yang sudah saya katakan di atas, beliau memunyai
julukan sebagai “Doktor Prostitusi” karena rumah beliau dekat dengan area lokalisasi
dan beliau mendedikasikan diri untuk ikut terjun berdakwah di dunia kemaksiatan
tersebut.
Menurut beliau,
dakwah itu merubah dan merombak kemungkaran.Apa yang harus dirubah? Banyak.
Salah satunya merubah mainseat pelacur dan mucikari yang mengatakan “Tidak
melacur, tidak makan.”.bagaimana cara yang tepat agar mainseat yang sudah
tertanam di alam bawah sadar mereka sejak lama dapat dirubah melalui dakwah.
Dalam hal ini, beliau juga mengatakan bahwa berdakwah dilakukan dengan cara
kelembagaan. Beliau juga berdakwah melalui lembaga yang bernama FORKEMAS (Forum
Komunikasi Elemen Masyarakat Surabaya).
Kemudian
narasumber ketiga yaitu KH. Drs. Khoiron Syuaib dengan julukannya “kyai
prostitusi”. Beliau mengklasifikasi mitra dakwah menjadi empat macam, yaitu PSK,
mucikari, tokoh-tokoh berpengaruh seperti RW, dan masyarakat yang merasa
diuntungkan dengan adanya lokalisasi.Metode beliau dalam berdakwah adalah
mendekati masing-masing mitra dakwah dengan dakwah santai dan tidak langsung
menyalah-nyalahkan perbuatan mereka serta menghindari dakwah yang terkesan
membosankan.
Salah satu contoh ketika berdakwah pada PSK beliau mengatakan proses dakwah
sampai dilakukan di tretes untuk memberikan pesan keisaman agar menyentuh hati
dan terbukti setelah dari sana, mereka semua menjadi insyaf dan berhenti dari
pekerjaan maksiat tersebut. Satu statement beliau adalah “Prostitusi selama setan masih hidup
maka akan terus ada sampai kiamat”.Oleh karena itu, dakwah juga terus dilakukan
untuk mengimbanginya.
Narasumber yang terakhir yaitu H. Gatot Subiantoro, seorang mantan preman
yang termasuk dalam salah satu preman berpengaruh di area lokalisasi.Mengenai
pengalaman dalam hal dunia kemaksiatan tersebut beliau sudah khatam.Beliau
berbagi cerita bagaimana seorang Gatot yang setiap harinya bergelimang uang
hasil upeti dari para PSK dan lelaki hidung belang yang menyewa jasa mereka. Setiap harinya
yang selalu ditemani oleh minuman keras dan
dikelilingi wanita-wanita cantik dan berkelahi dengan preman-preman
lain.
Tetapi itu
semua sudah menjadi cerita masa lalu bagi beliau. Alhamdulillah Allah SWT masih
menyayangi beliau dan memberikan hidayahnya pada beliau sehingga di usia yang
sudah tidak lagi muda beliau masih bisa merasakan manisnya iman islam melalui
para mubaligh-mubaligh yang sudah saya sebut di atas. Beliau bercerita, bahwa
metode dakwah para mubaligh di atas berbeda dengan metode da’i yang lain.
Ketika mereka datang, mereka tidak langsung mengatakan hal ini dosa, hal itu
dilarang, kamu harus taubat, kamu harus sholat, dan sebagainya. Tetapi mereka
merangkul beliau terlebih dahulu dengan dilibatkan pada acara-acara hari besar
islam seperti menjadi panitia kurban pada saat Idul Adha.
Dari perlakuan
yang seperti inilah, yang membuat beliau tersentuh dan dapat menangkap sinar
hidayah Allah SWT. Dakwah yang tulus, ikhlas, sabar, telaten, dan halus inilah
yang mampu mengubah seorang Gatot Subiantoro menjadi sosok Umar Bin Khattab
ketika di zaman Rasulullah SAW. Sesorang yang awalnya antipasti dan menentang
dakwah, kini menjadi pembela dakwah islam paling depan dan kemudian ikut serta
dalam aksi dakwah.
Kata-kata pesan beliau yang paling berkesan bagi saya adalah “Kekayaan
nggak ada habisnya, kemiskinan nggak ada habisnya, akan tetapi usia ada
habisnya.” dan “Dakwah jangan hanya di Masjid saja, tetapi harus kemana-kemana.
Tetangga
masih membutuhkan perhatian kita”. Semoga beliau-beliau yang saya ceritakan di
atas, tetap diberi kesehatan dan usia yang panjang agar bisa terus memberikan
kebermanfaatan bagi masyarakat dimanapun berada.
Berikut ini 4 kesan saya selama mengikuti kegiatan kuliah lapangan
di eks-lokalisasi :
1.
Saya dapat mengerti betapa pentingnya peran ulama dalam menutup tempt
prostitusi.
2. Belajar akan jiwa pantang menyerah dan tetap semangat serta membentuk jiwa
enterpreneurship.
3. Menyadarkan saya seberapa hina kita dihadapan tuhan jika kita mau bertobat
dengan sungguh pasti ada jalan.
4.
Mengajarkan saya untuk lebih menghargai seorang wanita.
5.
Merasakan betapa kelam nya dolly pada zaman dulu.

No comments:
Post a Comment